TO Jangan Buat Saya KO!

TO itu singkatan dari try out alias ujian/tes uji coba.

Saya sudah duduk di kelas 9 = saya harus mengahadapi UN (Ujian Nasional, bukan United Nations).

Saya akan menghadapi UN = harus belajar

Harus belajar = saya akan diuji coba (di-TO)

Sekarang, UN akan menguji (hanya) empat mata pelajaran, yaitu: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA. Akhir-akhir ini hari Sabtu-Minggu harus dikorbankan untuk mengikuti TO dari sekolah. Saya dan teman-teman pagi-pagi sebelum mengerjakan TO, mukanya masih pada fresh gitu. Eh, pas selesai udah pada males dan jutek (baca: stress). Mereka juga pada males ngebahas pelaaran yang di-TO-in.

Pas bagiin raport mid-semester, dilampirkan pula hasil nilai try out saya yang nilainya pas-pasan. Temen saya ada yang mau nangis ngeliat nilainya sendiri karena ketakutan gak akan dapet sekolah negeri yang dia inginkan.

TO jangan bikin saya KO!

Seharusnya TO jadi pecut penambah semangat belajar kan?

Petunjuk Jalan Seharga Rp 15.ooo,-

Hari ini, saya melanjutkan lagi lomba story telling yang saya ikuti. Babak semifinal dan babak final diadakan dalam satu hari. Setelah penjurian semifinal hanya satu teman saya yang lolos ke babak final. Saya dan satu teman saya tidak lolos.Maklumlah, pakai One Night Rush System. ^_^

Kami memutuskan daripada menunggu teman kami yang lama (pengumuman pemenang katanya jam lima, kami selesai jam setengah dua). Lebih baik jalan-jalan saja, daripada bengong nunggu di sekolah itu yang mas-mas penjual kantin masih pulang kampung, yang membuat kantinnya sepi. Apalagi stand-stand makanan sudah mulai berbenah.

Jujur saja, saya dan teman saya kurang akrab dengan daerah Selatan (sekolah tempat lombanya di Jakarta Selatan). Kalaupun pergi ke daerah Selatan saya selalu bersama orangtua saya yang seperti peta berjalan. Sebab, kami ‘hanyalah anak Timur’.

Pertama, kami keluar dari sekolah menuju jalan raya menggunakan Bajaj. Tujuan kami adalah PIM (Pondok Indah Mal). Karena nggak tahu jalan dari daerah Wijaya ke sana, apalagi naik public transportation.

Well, kami mampir ke Dapur Cokelat cuma beli 2 gelas minuman cokelat dengan harga @ Rp 7.500,- hanya untuk nanya mbak penjaga dari situ ke PIM gimana.

“Oh, ke PIM,ya? Kalian nunggu di depan terus naik 107 ke arah terminal Blok M. Di sana naik aja 72, itu sudah langsung ke PIM.”

“Hooo…Gitu ya, Mbak? Makasih, Mbak!”

Lantas kami langsung nyelonong keluar dan nunggu yang namanya 107, ternyata 107 memang jarang lewat situ. Ya sudah, kami naik Bajaj (lagi) menuju terminal. kami langsung bersorak gembira ketika melihat deretan Metromini bertuliskan “72 Blok M-Pondok Indah Mal”.

Rasanya seru sekali pergi ke Mal tapi gak tahu arah dan naik apa! Ho..ho berkat ‘mbak cokelat’ kami sudah duduk di bangku Metromini yang bergetar-getar terus. Cukup dengan ongkos Rp 1000,- kami sudah dapat menginjakkan kaki di PIM.

Setelah puas kami baru bingung pulang naik apa, sebab teman kami yang finalis itu tampaknya sudah mulai pulang ke rumahnya pakai mobilnya. Ya sudah, kami patungan saja naik taksi! Gak tarif lama lagi! Bluebird sih, ya keamanannya terjamin. Jadi kami gak bakal diculiklah.

Walaupun gak menang lomba, tapi dapet pengalaman dan ‘belajar’ jalan-jalan pakai angkot!
Ya gitu deh hariku yang:
menyenangkan + melelahkan = seru abis!